oleh

Haedar Nashir: Industri Halal dan Pariwisata Merupakan Jihad fi Sabilillah yang Perlu Digarap Serius oleh Muhammadiyah

-Nasional-86 views

BANDUNG (Simpony) – Berpusat di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Seminar Pra Muktamar bertajuk “Peluang dan Tantangan Industri dan Pariwisata Halal”, Kamis (12/5/2022).

Narasumber seminar antara lain Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Sandiaga Uno, Wakil Bupati Bandung Sahrul Gunawan, Founder PT. Paragon Nurhayati Subakat, Kepala Pusat Kajian Sains Halal LPPM IPB Khaswar Syamsu, Direktur LPHKHT PP Muhammadiyah Naddratuzzaman Hosen, dan Kepala Program Studi S3 Kajian Pariwisata UGM Hendrie Adjie Kusworo.

Memberi pidato iftitah, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyebut bahwa tema ekonomi, bisnis dan wirausaha, terutama di bidang Industri Halal dan Pariwisata adalah jihad fi sabilillah yang harus dilakukan oleh Muhammadiyah. Mengingat di sektor ini, kaum muslimin masih tertinggal.

“Titik lemah umat Islam kita yang mayoritas di negeri ini termasuk di negara luar adalah di bidang ekonomi, bisnis, kewirausahaan sehingga kita biarpun secara teologis memiliki ideologi tentang khairu ummah dan ajaran kita adalah Islam yang ya’lu wala yu’la alaih, ajaran yang tertinggi dan terbaik, sempurna. Tapi dalam aspek ekonomi, bisnis, dan wirausaha, kita sebagai umat, sebagai komunitas besar masih lemah,” ungkap Haedar.

Haedar lalu menganggap pernyataan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla masih relevan. Pernyataan itu adalah anggapan bahwa dari 100 orang kaya di Indonesia, 10 orang di dalamnya adalah orang muslim. Sebaliknya jika ada 100 orang miskin, maka 88 di dalamnya adalah umat Islam.

“Saya yakin argumen ini bisa didukung data empirik. Kenyataannya bahwa umat Islam yang mayoritas di negeri ini belum bisa berkualitas secara politik, budaya, iptek dan lain sebagainya karena faktor utamanya yakni kita masih lemah secara ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan,” kata Haedar.

Maka dari itu, Haedar berharap seminar ini menghasilkan pandangan-pandangan baru yang bersifat praktis sehingga mampu menjadi gerakan yang dapat diaplikasikan dan dikapitalisasikan oleh Muhammadiyah.

Hal penting lainnya, menurut Haedar adalah membangun kesadaran dan alam pikiran umat Islam agar perjuangan di bidang ekonomi apapun variannya betul-betul menjadi perhatian dan prioritas utama umat Islam.

“Kalau kita secara ummah, secara kolektif tidak menjadikannya sebagai sebuah harakah atau pergerakan yang itu sungguh-sungguh fokus lalu melipatgandakan, mengkapitalisasi motivasi dan usaha kita dan culture kita. Maka apa yang selalu kita sebut sebagai ketertinggalan umat itu hanya akan selalu menjadi wacana seminar, ceramah, pidato,” kritiknya.

Haedar berharap seminar ini mengambil intisari dan berbagai masukan penting untuk dimusyawarahkan sebagai program strategis dalam Muktamar Muhammadiyah ke-48 pada November 2022 nanti.

“Saya yakin nanti seminar ini akan menghasilkan keputusan dan pandangan-pandangan penting, strategis tapi juga praksis sebagai bahan kita mengembangkan pariwisata dan industri halal sekaligus kreatif dan produktif untuk kepentingan bangsa,” pungkasnya. (fan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed