oleh

Pentingnya Adaptasi Institusi Pendidikan di Masa Normal Baru

-Opini-47 views

PADA masa pandemi ini, institusi pendidikan adalah salah satu institusi yang paling terdampak dalam penyelenggaraan operasional hariannya. Kegiatan pembelajaran dihentikan dikarenakan resiko penyebaran virus yang tinggi.

Para peserta didik diharuskan untuk bisa Belajar dari Rumah (BDR) dengan didampingi orang tua. Sedangkan guru atau pengajar bertugas memberikan penugasan dan pembelajaran secara daring.

Di beberapa kampus, ada yang memulai kuliah daring dengan infrastruktur seadanya ada juga yang melangkah lebih jauh dengan membuat studio rekaman untuk mengembangkan konten pembelajaran lengkap dengan tim pengembang konten dan juga tim kurikulum.

Mereka menyulap salah satu ruangan khusus digunakan sebagai tempat untuk memproduksi konten. Selain itu terdapat tim yang khusus merancang strategi pembelajaran, tim pembuat konten, tim pendukung dan juga tim sosial media.

Mereka bekerja dalam koordinasi pengembangan bahan ajar daring yang siap dikonsumsi oleh peserta didik dan juga bisa juga dinikmati oleh umum.

Selain kampus, beberapa sekolah juga telah menerapkan ini. Guru-guru diminta untuk tetap masuk sekolah untuk merekam atau mengunggah konten pembelajaran yang nantinya akan dikonsumsi oleh siswanya. Sekolah mendukung dengan menyediakan ruang produksi dan koneksi internet untuk mengunggah konten.

Penugasan diorganisasikan dalam e-learning yang telah sebelum masa pandemi digunakan. Evaluasi dan penilaian dilakukan secara online. Tentunya ini terjadi pada institusi-institusi yang menjadi early adopter pembelajaran daring.

Namun saya mengamati, ada juga sekolah yang gagap dalam masa pandemi ini. Guru-guru seakan menyelenggarakan pembelajaran hanya sekedarnya. Lempar video ke group whatsapp, menyapa, menjadwalkan setoran dan mengharapkan orang tua dan siswa yang aktif untuk belajar. Mereka hanya berperan untuk pemberi tugas, bukan seorang guru dimana arahan dan perbaikan sangat diharapkan oleh orang tua wali murid.

Kita tentu saja tidak bisa menyalahkan semata-mata pada guru dalam kualitas pembelajaran yang rendah ini. Kita sadar bahwa guru tidak memiliki latar belakang teknologi informasi yang mumpuni. Bahkan kesadaran institusi pendidikan terhadap pentingnya infrastruktur TIK dalam mendukung proses pembelajaran juga masih minim.

Bagaimana bisa guru tidak punya kemampuan tersebut? tidak mampukah mereka mengkreasi konten yang menarik?

Sekali lagi, itu bukan salah guru-guru dan tenaga pengajar, terdapat hal yang lebih mendasar yang perlu diperbaiki yaitu sistem pendidikan. Sistem pendidikan adalah terkait dengan kebijakan, infrastruktur, visi dan misi, tenaga kependidikan, keberpihakan dan utamanya adalah kurikulum.

Singkatnya, mereka tidak mampu ya karena mereka tidak dididik untuk itu.
Mereka hanya dibekali dengan konsep pembelajaran konvensional. Inilah mengapa salah satu masalah adopsi teknologi informasi di sekolah itu sangat sulit. Mereka diajari untuk tidak melakukan perubahan pada sistem pendidikan yang lama. Pada akhirnya, saat terjadi suatu peristiwa yang menyebabkan mereka berubah dengan drastis mereka gagal beradaptasi.

Selain itu, ‘konten menarik’ adalah sesuatu yang subyektif. Sebuah konten bisa saja menarik bagi seorang pengajar, namun bisa juga sangat membosankan bagi siswa. Pemahaman terkait apa yang disukai dengan audien menjadi penting disini.

Eksperimen dalam model pembelajaran dibutuhkan untuk bisa menemukan metode dan konten apa yang menarik bagi audien. Pemahaman terkait dengan perilaku siswa juga elemen penting dalam merumuskan konten yang menarik.

Pada intinya adalah, semakin cepat mereka beradaptasi dengan perkembangan teknologi, khususnya teknologi pembelajaran maka institusi akan memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan bahkan dibilang sukses pada masa seperti sekarang ini.

Nah, apakah sekolah late adopter ini bisa bertahan dan melanjutkan bisnisnya?

Tentu bisa, namun waktu yang dibutuhkan, anggaran yang dikeluarkan tentunya jauh lebih banyak dibanding early adopter.

Beruntunglah anak didik yang memiliki institusi dengan modal adopsi teknologi informasi awal. Mereka mendapatkan manfaat dan memiliki peluang yang besar untuk mengembangkan diri secara akademik dibandingkan dengan sekolah yang terlambat mengadopsi.

Kemendibud rupanya telah sadar dengan hal ini, maka baru-baru ini mereka mengubah paradigma pendidikan yang awalnya hanya mengedepankan  4 C, Communication, Collaboration, Critical Thinking, dan Creativity, menjadi 7 C dengan menambahkan Computing Logic dan Compassion dalam kurikulum pendidikan di Indonesia.

Terbukti, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, kreatifitas, logika komputasi dan kepedulian terhadap sesama sangat berperan penting dalam kondisi pandemi semacam ini.

Selain itu, Kemendikbud juga telah memaparkan konsep Merdeka Belajar yang mendorong seluruh pemangku kepentingan pendidikan menjadi agen perubahan dengan tujuan mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Dalam konsep ini ditekankan perbaikan yang menjadi prioritas yaitu 1) Infrastruktur dan Teknologi; 2) Kebijakan, Prosedur, dan Pendanaan; 3). kepemimpinan, Masyarakat, dan Budaya; 4) Kurikulum, Pedagogi, dan Asesmen.

Pertanyaannya adalah, sudahkah anda sebagai guru, sebagai orang tua dan sebagai masyarakat siap menjadi agen perubahan dan beradaptasi dengan tatanan Normal Baru?

Ahmad Hanafi, ST, M.Eng (Dosen Prodi Sistem Informasi Fakultas Teknik dan Teknologi Informasi, Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed