oleh

Unjaya Menggelar Kuliah Umum Kejuangan dan Bela Negara dalam Kehidupan Kampus

SLEMAN (Simpony) – Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta (Unjaya) menggelar kuliah umum bertemakan Kejuangan dan Bela Negara dalam Kehidupan Kampus, Jumat (4/3/2022) secara luring di Auditorium Lantai 4 Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta dan daring melalui zoom meeting juga Youtube channel Infounjaya.

Rektor Unjaya Brigjen Purn Dr Drs Djoko Susilo, ST, MT, IPU pada kesempatan ini mengungkapkan mengapa pihaknya mendatangkan pakar kejuangan dan bela negara dalam kehidupan kampus, karena semua itu berdasarkan Sesanti Unjaya, Aditiya, Mahatma, Daksa.

“Sesanti dan NKJA kekuatan juang untuk bela negara, perpaduan sesanti aditiya, mahatma, daksa dan NKJA patriotisme, nasionalisme, dan heroisme,” ungkapnya

Semua itu sebagai salah satu aspek kekuatan juang untuk kepentingan bela negara, untuk menjaga keutuhan, kelangsungan ,dan juga kemajuan NKRI.

Kuliah umum kali ini menghadirkan narasumber Brigjen TNI Dr Yusuf Ali, SE, M.M, CIQaR yang merupakan Wakil Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan RI.

Pada kesempatan itu Brigjen Yusuf menjelaskan apa itu bela negara. “Bela negara adalah tekad, sikap, dan perilaku serta tindakan warga negara, baik secara perseorangan maupun kolektif dalam menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dan negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI yang bedasarkan kepada Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa Indonesia dan negara dari berbagai ancaman,” katanya.

Brigjen Yusuf juga memaparkan fungsi pertahanan, bahwa setiap warga negara wajib mempertahankan negaranya supaya kelangsungan hidup bangsanya tetap terpelihara.

Selain itu, Brigjen Yusuf juga menjabarkan nilai-nilai bela negara, seperti cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, yakin terhadap Pancasila sebagai Ideologi Bangsa, rela berkorban demi bangsa dan negara, memiliki kemampuan awal bela negara.

“Berdasarkan undang-undang RI nomor 3 tahun 2002 tentang pertahanan negara dan undang-undang RI nomor 23 tahun 2019 tentang pengelolaan sumber daya nasional untuk pertahanan negara (PSDN), posisi Civitas Akademika Unjaya dalam melaksanakan bela negara dapat dilakukan melalui kegiatan pengabdian sesuai dengan profesi,” katanya.

Pengabdian sesuai dengan profesi dimaksud, sambung Brigjen Yusuf adalah dengan menjadi anggota komponen cadangan sebagai upaya mempersiapkan diri untuk menghadapi ancaman militer dan hibrida.

“Selain itu menjadi anggota kementerian/lembaga pemerintahan sesuai dengan bidang profesi yang berkaitan dengan tugas yang diterima sebagai upaya untuk menghadapi ancaman nonmiliter,” pungkasnya. (rya)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed