oleh

Wedang Uwuh Masih Diminati, Terutama di Tengah Pandemi

-Kuliner-480 views

YOGYAKARTA (Simpony) – Wedang uwuh, adalah minuman dengan bahan-bahan yang berupa dedaunan mirip dengan sampah, yang memiliki arti dalam bahasa Jawa, wedang=minuman, sedangkan uwuh=sampah. Wedang uwuh biasa disajikan panas atau hangat memiliki perpaduan rasa manis dan pedas dengan warna merah cerah dan aroma harum. Rasa pedas karena bahan jahe, sedangkan warna merah karena adanya secang. Wedang uwuh ini adalah minuman khas dari Yogyakarta, tepatnya Imogiri.

Diawal masa pandemi covid-19 melanda Indonesia, wedang uwuh banyak dicari, karena dipercaya dapat menambah imun bagi siapa yang mengkonsumsi minuman herbal tersebut.

Karena minuman ini merupakan perpaduan dan racikan dari rempah-rempah asli Indonesia, seperti :

Jahe
Banyak penelitian dalam negeri mengungkapkan khasiat jahe bersifat antikoagulan (anti penggumpalan darah) mencegah tersumbatnya pembuluh darah, penyebab utama stroke, serangan jantung yang lebih hebat dari bawang merah ataupun bawang putih dan juga mampu menurunkan kadar kolesterol dengan mengurangi penyerapan kolesterol dalam darah dan hati.

Minyak asiri yang dikeluarkan rimpang jahe berguna mengeluarkan gas usus serta membantu fungsi jantung, menurunkan tekanan darah dan membersihkan tubuh melalui keringat, Hal ini karena jahe merangsang pelepasan hormon adrenalin dan memperlebar pembuluh darah, akibatnya darah mengalir lebih cepat dan lancar dan memperingan kerja jantung memompa darah.

Penelitian yang dilakukan para ahli di Jepang juga mengungkapkan, jahe dapat menurunkan tekanan darah tinggi dengan jalan mengurangi laju aliran darah perifer (aliran darah tepi).

Jahe juga dapat merangsang kelenjar pencernaan, baik untuk membangkitkan nafsu makan, memperkuat lambung, dan memperbaiki pencernaan. Hal ini dimungkinkan karena terangsangnya selaput lendir perut besar dan memperkuat otot usus.

Bau harum khas jahe, berkhasiat mencegah dan mengobati mual dan muntah, misalnya karena mabuk kendaraan atau pada wanita yang hamil muda. karena jahe mampu memblok serotonin, yaitu senyawa kimia yang dapat menyebabkan perut berkontraksi, sehingga timbul rasa mual.

Dalam pengobatan tradisional Asia, jahe dipakai untuk mengobati selesma, batuk, diare dan penyakit radang sendi tulang seperti artritis. Jahe juga mengandung antioksidan yang membantu menetralkan efek merusak yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam tubuh.

Kayu Secang
Herbal ini yang membuat wedang uwuh berwarna merah. Di daerah Yogyakarta dan sekitarnya, herbal ini biasa disebut kayu secang (Caesalpinia sappan) telah lama dikenal sebagai bahan ramuan untuk mengobati berbagai penyakit, seperti sifilis, batuk darah, dan radang. Penelitian yang dilakukan di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta juga mengungkapkan, secang memiliki kemampuan antioksidan, antikanker, memperlancar peredaran darah, dan melegakan pernapasan.

Cengkeh, bunga cengkeh, batang cengkeh dan daun cengkeh
Cengkeh memiliki khasiat mengatasi sakit gigi, sinusitis, mual dan muntah, kembung, masuk angin, sakit kepala, radang lambung, batuk, terlambat haid, reumatik, campak, dan lain-lain.

Sifat kimiawi dan efek farmakologis dari cengkeh adalah hangat, rasanya tajam, aromatik, berkhasiat sebagai perangsang (stimulan), antiseptik, peluruh kentut (icarminative), anestetik lokal, menghilangkan kolik, dan obat batuk. Kandungan kimia pada cengkih adalah karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin B1, lemak, protein, dan eugenol.

Bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) selain mengandung minyak atsiri, juga mengandung senyawa kimia yang disebut eugenol, asam oleanolat, asam galotanat, fenilin, karyofilin, resin dan gom.

Minyak cengkeh sendiri banyak dimanfaatkan oleh dokter gigi sebagai penghilang rasa sakit.

Kayu manis dan daun kayu manis
Kayu manis dan daun kayu manis membuat rasa “wedang uwuh” menjadi lebih nikmat juga memiliki sifat antioksidan. Banyak herbalis meyakini bahwa campuran jahe dan kayu manis berkhasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh karena kandungan antioksidannya tinggi. Ada beberapa penyakit yang bisa disembuhkan dengan ramuan dari kayu manis: Sakit perut, kembung, sakit kepala karena sinus, kelelahan, kelebihan berat badan.

Pala dan daun pala
Buah pala dan daun pala dengan keharuman semerbak ini ternyata mempunyai banyak khasiat bagi kesehatan. Kandungan kimia flavonoid, saponin dan polifenol dapat mengatasi batuk berlendir, membantu pencernaan, penghilang kejang otot, menghilangkan nyeri, mengobati masuk angin, insomnia (gangguan susah tidur), bersifat stomakik (memperlancar pencernaan dan meningkatkan selera makan), melancarkan sirkulasi darah, karminatif (memperlancar buang angin), antiemetik (mengatasi rasa mual mau muntah karena masuk angin), nyeri haid, reumatik dan lain sebagainya.

Akar sereh dan daun sereh
Akar sereh sejak lama digunakan sebagai peluruh air seni, peluruh keringat, peluruh dahak/obat batuk, bahan untuk kumur, dan penghangat badan. Baik dikonsumsi disaat hujan atau di sore hari.

Daun: digunakan sebagai peluruh angin perut, penambah nafsu makan, pengobatan pasca persalinan, penurun panas dan pereda kejang.

Kapulaga
Kapulaga mengandung minyak atsiri, sineol, terpineol, borneol, protein, gula, lemak, silikat, betakamfer, sebinena, mirkena, mirtenal, karvona, terpinil asetat, dan kersik. Dari kandungan tersebut kapulaga memiliki khasiat sebagai obat batuk dan untuk mencegah keropos tulang.

Gula batu
Gula batu memberikan rasa manis yang khas tanpa menghilangkan aroma dan citarasa asli bahan-bahan ramuan wedang uwuh.

Oleh masyarakat Jogja, gula batu ini sudah dikenal sejak lama sebagai obat batuk yang membandel. Dengan cara memotong buah ketimun, kemudian meletakan gula batu secukupnya di tengah-tengah biji ketimun, tunggu hingga gula batu mencair, lalu lelehan cair gula batu yang ada pada biji ketimun tersebut diminum dikit demi sedikit hingga larutan gula batu tadi habis.

Pada awalnya wedang uwuh masih dalam bentuk bahan utuh berupa rempah-rempah asli, tetapi seiring perkembangan zaman dan kebutuhan akan kepraktisan, saat ini wedang uwuh sudah dikembangkan menjadi dalam bentuk instan, maupun bentuk celup.

Sebut saja, Ari (32) warga Suryatmajan, Yogyakarta yang sejak awal pandemi mencoba mengadu nasib berjualan wedang uwuh setelah diberhentikan sementara oleh perusahaannya mengaku hingga hari ini pemesanan wedang uwuh masih banyak diminati. Itu membuktikan bahwa minuman ini masih diminati oleh masyarakat.

“Wedang uwuh ini selama corona banyak disebut-sebut sebagai obat, jadi banyak yang menyebutnya empon-empon corona,” ujar Ari, Rabu (24/2/2021) kepada Simpony.net

Bahkan Ari mengaku pesanan wedang uwuhnya tidak hanya terbatas di Yogyakarta, tetapi sampai keluar kota pun banyak yang memesan kepadanya. “Nggak ngerti mereka tahunya darimana, tapi banyak yang pesan dari luar kota, bahkan sampai ke Kalimantan juga ada,” tambahnya.

Dalam satu hari, jelas Ari di kala awal corona, dia bisa menghabiskan sedikitnya 100 pak wedang uwuh jumbo yang berisi 10 bungkus tiap pak nya. “Ya nggak mesti kadang sampai 100 pak, 200 pak. Ada yang ambil langsung, ada juga yang minta dikirim,” katanya.

Hingga saat ini, walaupun Ari sudah mulai dipekerjakan kembali di perusahaannya, tapi usaha menjual wedang uwuh tetap dia jalani bersama istrinya. “Kalau sekarang paling kalau pesan bisa diambilnya sore atau pagi hari, karena siang hari saya bekerja,” ucapnya.

Hal senada juga diungkapkan Mak Sri, penjaja empon-empon di Pasar Beringharjo Yogyakarta, yang mengaku penjualan empon-emponnya masih banyak dicari orang. “Biasanya yang banyak di cari Jahe sama Sereh, soalnya yang gampang dibuat minuman,” katanya.

Walaupun sempat melambung harga empon-empon di pasaran, tapi kini menurut Mak Sri harga tersebut sudah kembali normal. “Sudah normal dan sekarang banyak yang cari,” katanya.

Bahkan sekarang ini banyak juga ditemui beberapa rumah makan yang ikut menyajikan minuman herbal berbahan dasar empon-empon tersebut. (kps)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed